Mengenal Kecerdasan Emosional dan 3 Cara Melatihnya

Tahukah Anda bahwa sukses dalam hidup bukan hanya berdasarkan dari IQ tapi juga dari EQ (Emotional Intelligence) atau kecerdasan emosional, yaitu tentang agaimana cara Anda mengontrol diri juga menjalin hubungan dengan orang lain.

Dalam dunia pekerjaan, jika Anda mau sukses dalam berkarir, maka bekerja dengan baik saja tidak cukup, Anda perlu memahami cara berkomunikasi dengan orang lain, mungkin dengan rekan kerja, atasan, klien, dan sebagainya.

Apapun pekerjaan kita, baik itu bekerja mandiri atau berkarir di perusahaan, kita pasti tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain. Bukan hanya itu, untuk mengelola tekanan pekerjaan dan hidup, Anda juga harus bisa menjadi ahli mengontrol emosi, apalagi dalam situasi yang sulit. Itulah mengapa buku ini menjadi sangat penting, bukan hanya membantu Anda untuk membangun hubungan yang kuat dengan orang lain, tapi juga dengan diri sendiri.

Apa itu kecerdasan emosional

Mungkin Anda sadar, kok di sekeliling kita ada orang yang sepertinya jago dalam membaca situasi dan bahasa tubuh orang lain, mereka juga punya keahlian dalam memberikan respon yang tepat.

Mereka merupakan tipe orang yang mampu menenangkan rekan kerja yang sedang marah, berkomunikasi dengan rekan kerja yang sulit, dan menenangkan rekan kerja yang sedang cemas. Apa yang membuat orang tersebut begitu ahli? Ternyata, hal ini berakar pada kemampuan kecerdasan emosional mereka. Kecerdasan emosional atau dikenal dengan EQ adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi. Hal ini juga melibatkan kompetensi sosial, yang berarti memahami emosi orang lain dan keterampilan komunikasi yang baik.

Orang dengan skor EQ tinggi mampu mencegah emosi mereka sendiri mempengaruhi perilaku mereka. Menariknya, kecerdasan emosional dapat ditingkatkan dengan mengamati orang lain yang memiliki EQ tinggi dan dengan mengembangkan diri dan hubungan dengan mereka.

EQ pada dasarnya merupakan gabungan dari empat elemen.

1. Self-awareness

Ini adalah kemampuan untuk memahami perasaan atau prilaku Anda.

2. Self-management

Ini adalah kemampuan untuk mengontrol diri sehingga Anda bisa memberikan respon yang sesuai pada kondisi yang berbeda.

3. Social awareness

Tadi kita bahas kalau yang utama adalah bagaimana mengontrol diri sendiri. Maka, kali ini adalah soal membaca situasi dan kondisi. Orang yang ahli dalam hal social awareness mampu memahami apa yang membuat orang lain marah, sedih, atau bahagia.

4. Relationship management

Dengan memahami dirimu sendiri dan orang lain, maka kedua hal ini akan membantu Anda membangun hubungan yang lebih kuat dengan orang yang penting di hidup. Contohnya begini, jika Anda tahu kalau rekan kerja sulit menerima kritik secara langsung, maka Anda akan mencoba memberikan kritik yang lebih mudah diterima. Kemudian, mulai dengan dirimu dulu Seberapa baik Anda mengenal dirimu sendiri?

Anda mungkin tahu apa yang Anda suka dan tidak suka, tapi self-awareness lebih dalam daripada hanya sekedar itu. Ini adalah tentang bagaimana Anda memahami emosi dan perasaan Anda, sehingga Anda tidak dikontrol olehnya. Anda jadi paham soal apa yang Anda rasakan, termasuk ketika Anda marah atau kesal.

Misalnya begini, suatu hari ternyata dompetmu ketinggalan di rumah saat Anda sudah sampai di kantor, kopi yang Anda buat tumpah, atau rekan kerja tidak bekerja sesuai deadline. Jika dalam sehari Anda mengalami hal yang buruk, mungkin Anda menjadi sangat kesal dan ingin menumpahkan semuanya.

Namun, dalam kondisi ini, Anda harus mencoba untuk latihan self-awareness. Sadarilah ketika Anda sedang bad mood, perasaan itu pasti akan pergi juga. Apapun yang membuat Anda bad mood, tentu saja bukan seperti hari kiamat kan, jadi kenapa Anda harus menanggapinya dengan berlebihan? Itu tadi adalah contoh latihan self-awareness ketika muncul perasaan negatif.

Mengenal Kecerdasan Emosional dan Cara Melatihnya

Sumber gambar https://xframe.io

Bagaimana bila sebaliknya?

Ketika kita mendapatkan kabar yang menyenangkan? Bayangkan, toko favorit Anda sedang menggelar diskon besar-besaran, Anda pun langsung buru-buru pergi dan belanja sebanyak-banyaknya. Pada kondisi tersebut, diri Anda ibaratnya dikontrol oleh emosi Anda sendiri. Ketika dalam kondisi ini, coba berhenti sejenak dan tanya ke dirimu, apakah Anda benar-benar memerlukan barang tersebut? Latihan self-awareness ini akan berusaha untuk membuat Anda sadar tentang apa yang Anda rasakan.

Selain self-awareness, selanjutnya latihan yang bisa Anda lakukan adalah self-management. Ini memang bukan hal mudah. Setelah memahami apa yang sedang kita rasakan, ini adalah latihan untuk menyeimbangkan antara logika dan perasaan. Anda juga bisa menimbang mana yang lebih penting dan memprioritaskan untuk tujuan jangka panjang. Misalnya, Anda mau menurunkan berat badan, namun kemudian diajak teman Anda untuk makan all you can eat.

Bagaimana? Pilihan mana yang Anda ambil? Tentu saja setiap pilihan ada konsekuensinya dan apakah pilihan Anda mendekatkan pada tujuan Anda atau tidak?

Ada beberapa latihan yang bisa Anda lakukan untuk melatih self-management.

Pertama, Emotion vs Logic List

Jadi, ketika misalnya Anda dihadapkan pada dua pilihan, apalagi pilihan yang sulit. Maka, Anda bisa berlatih dengan membuat daftar antara perasaan dan logika. Tuliskan argumen secara logika dan perasaan di dua baris yang berbeda, sehingga ini bisa membantu Anda melihat segala sesuatu dengan lebih jelas.

Kedua, Gunakan self-talk.

Rata-rata manusia memiliki 50.000 pemikiran setiap hari dan pemikiran ini akan mempengaruhi perasaan dan sikapmu. Jadi, ketika Anda sudah sadar apa yang sedang Anda rasakan, usahakan untuk berlatih mengganti pikiran negatif menjadi pikiran yang lebih positif.

Ketiga, Belajar memahami orang lain

Sebelumnya kita sudah bahas, kalau semuanya harus dimulai dari diri sendiri dulu, barulah kemudian kita bisa melatih kemampuan kita untuk memahami orang lain. Latihan ini merupakan observasi atas perilaku, ekspresi, bahasa tubuh, dan nada suara orang lain untuk mengetahui kapan lelucon itu pantas dilontarkan atau kapan lebih baik memberikan seseorang kesempatan untuk melampiaskan rasa frustrasinya.

Untuk langkah awal, Anda bisa memulainya dengan memanggil seseorang dengan namanya, jadi bukan hanya dengan sebutan, bapak, ibu, mas, atau mbak saja. Tapi Anda sebut namanya, Bapak Ali, Ibu Maria, dan sebagainya. Dengan mengingat dan menyebut namanya, ini adalah langkah awal untuk menarik perhatian lawan bicara Anda.

Selanjutnya, Anda harus hadir sepenuhnya, mendengarkan, dan mengamati. Ini berarti kita harus memberikan perhatian penuh kepada orang lain dan bersedia mempertimbangkan sudut pandang mereka. Ini membutuhkan kemauan dan kemampuan untuk memahami perspektif orang lain meskipun mereka berbeda dari perspektif Anda.

Salah satu tujuan utama dari kecerdasan emosional adalah mampu membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Untuk meningkatkannya, Anda bisa belajar dengan meminta feedback orang di sekitar, tentang apa yang mereka rasakan saat berinteraksi dengan Anda. Semua orang memang pada dasarnya sulit menerima feedback dari orang lain. Namun, kritik yang membangun mampu meningkatkan diri Anda sebagai pribadi dan juga pada akhirnya meningkatkan hubungan Anda dengan orang lain.

Kesimpulan

Orang dengan kecerdasan emosional yang baik mampu mengontrol dirinya sendiri, tahu kapan harus bicara, dan kapan harus diam. Mereka juga mampu membaca situasi dan kondisi saat berhubungan dengan orang lain.

Artikel ini ditulis berdasarkan dari buku Emotional Intelligence 2 karya Travis Bradberry dan Jean Greaves.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *